RSS

Arsip Kategori: Resensi Film

The Pianist (2002) film yg keren…

images
Beberapa film terakhir yang saya tonton berhubungan dengan peristiwa sejarah pembantaian kaum Yahudi oleh NAZI. Film ini juga menyajikan hal yang sama dari sudut pandang yang berbeda. The Pianist menceritakan seorang pianist Yahudi asal Polandia Wladyslaw Szpilman , dan juga keluarganya yang mengalami masa-masa kelam pada saat itu.

Szpilman dan keluarganya mengalami pengucilan yang dilakukan oleh tentara Jerman pada saat itu , dipojokkan ke sudut-sudut kota , mengalami kerja paksa , kelaparan , dan akhirnya kehilangan seluruh anggota keluarganya yang dibantai. Szpilman , yang dibantu oleh temannya berhasil lolos dari proses pembantaian dan berhasil hidup dengan cara berpindah-pindah di bawah perlindungan rekan-rekan Jermannya yang sesama seniman.

Sampai akhirnya ia harus berusaha hidup seorang diri , hidup mengendap-ngendap karena sudah tidak ada orang yang melindunginya. Rasa kesepian , kehilangan , dan trauma karena seringnya melihat dan merasakan tragedi-tragedi terus menghantui hari-hari Szpilman. Disini juga kita bisa melihat letupan-letupan angan Szpilman yang berharap semuanya kembali damai seperti sediakala walaupun ia tahu tidaka akan pernah bisa kembali ke kebahagiaan lamanya bersama keluarganya.

Wladyslaw Szpilman , adalah satu orang berutung pada saat itu karena bisa lolos dari kematian yang dialami oleh sebagian besar kaum yahudi lainnya . Roman Polanski menyajikan film ini dengan brilian , terutama mengenai property yang ia gunakan sangat membuat kita merasakan suasana pada zaman itu. Properti dan efek yang digunakan setara dengan film legendaris Life Is Beautiful , bahkan Inglorious Basterds yang dirilis pada dekade yang sama menurut saya berada satu tingkat dibawah kedua film ini untuk urusan pensuasanaannya.

reviewing all good things :]

Request Review
Movie
Book
Music
Wisata Kuliner
Polling

The Pianist (2002)
9 March 2011
tags: 2002 movie, 8/10, Adrien Brody, Ed Stoppard, Emilia Fox, History Drama, Jewish Movie, Julia Rayner, Michal Zebrowski, movie review, Roman Polanski.

Polansi menyajikan film ini dengan baik walaupun banyak scene yang kosong tanpa dialog. Pembantaian yang dilakukan tentara Jerman dengan semena-mena terasa kehororrannya dalam film ini. Hal itu tambah bagus lagi dengan akting Adrien Brody yang mendapatkan Oscar melalui film ini. Intinya film ini bisa membawa emosi para penonton . Terkadang sy merasa ada harapan yang muncul tapi kemudian di scene selanjutnya harapan itu langsung hilang. Mood kita bakal bener-bener jungkir balik di film ini .

Sekedar saran , kalo anad punya waktu luang yang cukup banyak, coba tonton film-film dibawah ini dengan waktu yang berdekatan. Karena film-film tersebut menceritakan peristiwa yang waktunya cukup berdekatan sehingga kita bisa merasakan keadaan pada zaman itu dari berbagai sudut pandang , lumayan buat nambah ilmu sejarah kita :D

1. Inglorious Basterds
2. The King’s Speech
3. Life Is Beautiful
4. The Pianist

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Februari 2013 in Resensi Film

 

Life is Beautiful 1997

69069840

Life is Beautiful 1997, memenangkan 3 kali di academi awards…baguus bangat nih ceritanya. Salah satu film menarik dan rating yg cukup tinggi dari sy… dari film yang pernah saya tonton…

Ternyata hati, perasaan, dan cinta itu ada, setidaknya ditahun 1939, tepatnya di kota Arezzo, Italia. Cinta diuji keberadaannya oleh sebuah jaman dimana rasialisme tengah berkembang, antara bangsa Jerman – Aria – dan bangsa Yahudi.
Si tua Marx sepertinya semakin keliru. Cinta dan perkawinan bukan hanya sekedar bekal sebagai produsen tenaga kerja. Cinta tidak hanya itu. Ia, seperti kata Kahlil Gibran, adalah sebuah racun manis yang diminum oleh roh-roh yang kehausan, untuk kemudian mabuk sesaat, diam sebentar, dan mati selamanya.
Disini Guildo sebagai pemeran utama memiliki multi kepribadian. Ia bisa disebut seorang periang, licik, menyebalkan, menyedihkan, pintar, dan kocak. Pada permulaan, Guildo selalu didampingi oleh sahabatnya yang bernama Ferruccio. Mereka berdua bekerja sebagai pelayan restoran milik paman Guildo. Mereka selalu bergembira dengan segala kekocakan Guildo.
Pada suatu saat, ketika ia sedang dikejar-kejar oleh seseorang akibat kekonyolannya, secara tidak sengaja ia menabrak seorang gadis yang ternyata pernah dikenalnya. Disitu Guildo mulai terpikat hatinya. Dan dikemudian hari, orang yang mengejarnya itu diketahui bernama Rudolfo, calon suami Dora, wanita yang ingin dikencani Guildo. Tapi ternyata, Dora tidak terlalu respect kepada Rudolfo yang selalu bergaya formil. Ia membutuhkan orang yang bisa membuatnya rileks.
Pribadi yang cair, seperti yang didambanya, ditemukannya pada diri Guildo. Mereka pela-pelan menjalin kisah. Hingga suatu hari, ketika acara resepsi pernikahan Dora dengan Rudolfo sedang berlangsung, Dora dan Guildo sepakat untuk nekat meninggalkan ruangan. Rudolfo kurang cepat bertindak. Karena, pertama ia menyangka ini adalah bagian dari hiburan, dan kedua ia merasa pernah bertemu dengan Guildo tapi lupa dimana. Dan ketika ia tersadar, Guildo sudah pergi bersama Dora, meninggalkannya.
Setelah itu mereka berdua pun melangsungkan pernikahan dan memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Joshua. Ketika pernikahan antara Guildo dengan Dora terjadi, peran Ferruccio, sahabat Guildo, menghilang. Ketika sudah menikah, Guildo beralih profesi. Ia mulai membuka usaha toko buku yang dibantu Joshua. Keharmonisan sebuah keluarga hanya sebentar dirasakan oleh keluarga Guildo, karena dari sinilah petaka rasisme mulai menghampiri. Tentara Jerman menginvasi Italia.
Life Is Beautiful (La Vita F bella) [1997] HDRiP[17-40-30]
Guildo dan Joshua dibawa oleh tentara Jerman untuk dipekerjakan secara paksa. Dora tidak mengetahuinya sampai ia melihat isi toko berantakan. Buru-buru ia mendatangi stasiun kereta yang akan membawa orang-orang Yahudi, termasuk didalamnya suaminya dan anaknya. Dora yang bukan Yahudi meminta kepada seorang sipir Jerman untuk tidak membawa serta Guildo dan Joshua. Namun ditolak, sehingga memaksa Dora nekat untuk ikut berangkat di dalam kereta tersebut. Ini dilakukan demi cintanya kepada keluarganya. Ia sudah tidak berpikir panjang lagi. Tetapi walaupun Dora ikut serta, mereka tidak pernah bertemu muka secara langsung. Tentara Jerman membagi rombongan secara jenis kelamin.
Di sepanjang perjalanan dan ditempat tujuan, Guildo selalu berusaha membohongi Joshua tentang maksud sebenarnya dari perjalanan ini. Ia membohongi dengan gayanya yang khas yaitu selalu berusaha merasionalkan alasan dengan menggunakan lelucon-lelucon. Disinilah terlihat cinta seorang bapak kepada anaknya begitu menonjol. Walaupun badannya sangatlah lelah akibat kerja paksa, namun Guildo tidak pernah menunjukkannya kepada Joshua.
Suatu ketika keisengan dan kenekatan Guildo muncul ketika ia melihat sebuah ruangan yang berisi mikropon tanpa penjaga. Ia yang membawa serta Joshua langsung masuk ke ruangan tersebut dan berbicara untuk mengabarkan perasaannya kepada Dora. Tentu ini dilakukan dalam bahasa Italia, yang tidak dimengerti oleh para tentara Jerman. Mendengar ini Dora sangat bingung dan terharu, sehingga tidak tahu harus berbuat apa-apa.
Ketika Guildo mendengar anak-anak kecil Yahudi akan dibunuh, ia berusaha menyembunyikan Joshua dalam sebuah kotak. Dan untuk lebih amannya, ia berusaha mencari perhatian para tentara Jerman tersebut. Namun malang baginya. Ia tertangkap ketika sedang mengendap-ngendap. Ketika ia dihampiri oleh seorang tentara yang sedang mengarahkan senjata kepadanya, tentara tersebut ditegur oleh atasanya dalam bahasa Jerman yang tidak dimengerti oleh Guildo. Rupanya maksud atasan tersebut adalah jangan membunuh di tempat keramaian. Maka dibawalah Guildo ke sebuah tempat sepi.
Ketika digiring, ia melihat anaknya sedang mengintip lewat lobang kecil di kotak persembunyian. Ia yang tidak mengerti ucapan atasan tentara Jerman yang tengah membawanya, masih sempat menunjukkan kesan kepada anaknya bahwa dia tidak apa-apa lewat tingkahnya yang dibuat sedemikian lucu. Namun ketika sampai disebuah tempat sepi, nyawa Guildo pun melayang.
Joshua, sesuai pesan ayahnya, baru keluar setelah keadaan sepi. Ia melihat sekeliling dan menemukan kedatangan tentara sekutu yang berhasil mengusir tentara Jerman. Oleh tentara sekutu tersebut, ia dipertemukan dengan ibunya, Dora. Mereka berdua belum mengetahui keberadaan Guildo yang telah meninggal ditembak.
Sebuah kisah nyata yang diangkat menjadi film ini sangat menyentuh perasaan manusia. Walaupun Dora bukan seorang Yahudi, tetapi ia mau mengikuti kerja paksa tersebut, dan Guildo rela mati demi keluarga yang sangat dicintainya. Disini cinta memang membutuhkan pengorbanan. Dan jika cinta tidak memerlukan pengorbanan, dalam situasi seperti diatas, itu hanyalah sebuah nafsu, hanya sebuah nafsu yang dikendalikan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Februari 2013 in Resensi Film

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 156 pengikut lainnya.